Keriting Manis
SI ADEMKU
“Halo, Ibuuuu”.
“Selamat pagi ibuuu!”
Itu chatingan yang biasa aku baca dan celotehan mereka ketika kantong dan uang jajan si
keriting manis sudah menipis.
“Ibuuu…..aku minta uang jajan”!, Sambil menghampiriku dengan
manjanya.
Kemunculan si rambut keriting yang sering menyapa, manakala
uang jajan, sabun mandi , bedak dan Parfumnya yang mulai surut, itu pemandangan
biasa yang membuat kangen . Kini
celotehan , rengekan nya tak lagi terdengar. Kangen rasanya.
Enam tahun yang lalu hari-hariku diwarnai keluh kesah, rengekan si anak-anak keriting
yang manis. Aku menyebutnya Si Adem.
Kenangan terindah semasa aku jadi ASN, diberi kepercayaan
menjadi guru pendamping Anak Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Papua dan
Papua Barat . Program presiden Nawacita memberikan pengalaman berharga untuk hidup berbagi kasih sayang. Anak-anak
Papua dalam setiap tahunnya kurang lebih 100 orang menyebar di
sekolah-sekolah di Jawa Barat. Salah
satunya SMAN Tanjungsari tempatku mengajar yang diberi jatah 2 orang dalam
setiap tahun.Waktu itu sekolah kami kebagian anak ADEM angkatan ke-5.
Pertama kali kujemput mereka di Hotel Asrilia, Bandung.Ada
perasaan bahagia walaupun memiliki
tanggung jawab yang cukup berat, karena saya sebagai guru pendamping harus
benar-benar bisa mengayomi, mengarahkan , serta memberi kasih sayang
seperti orang tuanya sendiri bagi
mereka.
Betapa tidak, anak sekecil dia sudah jauh pergi meninggalkan
keluarga tercinta yang memang tidak jarang mereka itu bukan keinginannya
sendiri tetapi keinginan kuat orang
tuanya untuk menyekolahkan anaknya di
Jawa Barat. Tidak heran pada bulan pertama anak adem kami berada di Jawa barat
berbagai cara dia lakukan untuk b isa pulang kembali ke tanah kelahirannya. Hal ini
dialami salah seorang anak saya yaitu Septince Pekey.
Pada suatu malam saya menerima telepon dari Pak Minese,
“Halo…Bu saya orang tua Septince , tolong malam ini juga anak saya antarkan ke
bandara, karena anak saya sakit, tadi dia nelepon saya , dia muntah-muntah
darah, dari telinga , mulut sem ua keluar darah, Jadi mohon ibu antar anak saya
sekarang “! Nadanya penuh kekhawatiran.
Saya bingung, dan kaget soalnya seharian saya bersamanya,
nggak ada tanda-tanda dia sakit.
Kulihat jam
menunjukkan pukul 23.15 WIB. Saya
telepon ibu kosnya untuk konfirmasi keadaannya. Dan saya menerima kabar mereka baik-baik saja.Kucoba menenangkan
hati, Pak Minese orang tua Septince itu, dan saya sampaikan ternyata anaknya
baik-baik saja Pak Minesepun menerima penjelasan saya.
Tidurku tak enak , perasannku tak tenang takutnya benar
adanya, tapi Kutak bisa berbuat apa-apa karena jarak rumahku ke sekolah tempat
dia berada cukup jauh makanya mereka tak tinggal denganku.
Pagi buta kubergegas untuk membawanya dia ke klinik untuk
meyakinkan sakitnya itu.
“Septince!...Septince!...ini ibu, gimana kamu baik-baik
saja? Sambil ku masuk dia menghampiriku dengan muka yang cukup murung tapi tak
terlihat dia sakit separah yang disampaikan ayahnya dari telepon.
“Kamu sakit ?” Tanyaku
Dia menganggguk. “Kalau sakit kita ke dokter ya”!
Kubawa dia ke dokter . Sampai disana dia diperiksa dan saya
sampaikan berdasarkan apa yang dia
ceritakan. Dokter bingung dan tidak menemukan gejala-gejala yang saya
kemukakan. Aku tambah bingung, dan kuberpikir munngkin ini akal-akalan
dia.Dokter memberi obat seperti temuan nya saja Cuma sakit flu. Di perjalanan
pulang orang tuanya mnelepon lagi mananyakan kondisi anaknya, sudah ku
sampaikan akan kesehatannanaknya yang baik baik saja.Tapi dia kekeh mau datang
ke Jawa barat menjemput anaknya. Aku nggak bisa apa-apa.
Kunasihati Si Adem
itu agar tidak usah khawatir akan kondisinya begitu pula kumencoba meyakinkan
Pak Minese bahwa kondisi anaknya tidak apa-apa
hanya sakit flu saja. Kucoba memberi nasihat pada septinve agar tidak
membuat ayahnya panic tetapi sepertinya dibelakangku tetep dia menyampaikan kondisinya itu yang sakit agar orang tuanya
khawatir dan menjemputnya pulang.
Kucoba diajak bicara dari hati ke hati, yang memang bisa
dilihat dia itu tidak betah ada di Jawa Barat.
Keesokan harinya dia
menyampaikan kepadaku akan mimpinya, “ Bu saya itu mimpi ada yang narik-narik
gitu tapi nggak tau siapa.Saya takut.Mimpinya serupa dengan kakak saya yang
sudah meninggal dan sakitnya seperti saya ini, jadi orang tua saya khawatir.
Untuk kitu saya besok akan pulang untuk acara ritual”. Ternyata itu alasan yang
iya sampaikan dan keesokan harinya ayahnya dating menjemputnya u;ang untuk
ritual dulu agar anaknya sehat tidak seperti kakaknya yang sakit sampai
meninggal dan persis sakitnya seperti dia.
Ya, apa boleh buat orang tuanya yang jemput nggak
bisa saya menahannya. Atas saran Koordinator ADEM, Pak Dzulkarnaen bahwa kalua
mau pulang anak ADEM diizinkan saja asa;l ongkosnya sendiri.
Akhirnya, mereka pulang minta waktu 2 bulan.Waktu yang cukup
lama. Dilema bagi saya sebagai guru dalammenegakkan disiplin . Di lsisi laian
kehadiran sangat penting tapi sampai 2 bulamn
itu bukan waktu yang singkat. Proses belajar dia banyak tertinggal ,
belum lagi kemampuan awalnya kurang begitu baik . Komunikasi juga cukup susah karena
belum bisa beradaptasi.
Dalam penantian, perasaan cemas menggelayuti pikiranku.
Takutnya si adem tidak kembali . Namun,s setelah dua bulan dia kembali lagi ke
Jawa Barat.
Sejak itu
keseharianku diisi kembali oleh warna si keriting manis ADEM. Dia, Septince
dari dua orang anak ADEM angkatan
pertama menjadi anak yang paling pandai
bersosialisasi dengan teman, penduduk setempat dan selalu bergaul dengan masyarakat terutama
dalam kegiatan Voli. Sampai waktu pulang karena selesai studi lulus kelas XII dia mengaku benar-benar masih
betah.
“ Haloo, ibuu!”
“Selamat pagi ibuu ! “
Kini tak lagi kudengar…..
Pengalman yang berharga, saya punya seorang teman waktu kuliah kami satu fakultas dia jurusan B ingris begitu lulus dengan prestasi teman saya tersebut bergabung dg tim Indonesia mengakar . Nah sejak purna dari Indonesia mengajar teman saya tersebut menjadi wali PIARA saya lupa kepanjangannya apa , tapi yg pasti piara ini terdiri dari 5-7 anak dari Indonesia bagian timur yang sekarang sekolah Di Jawa
ReplyDeleteYa ini program Pemerintah dalam penyebaran pendidikan untuk Papua, seperti itulah programnya
DeleteKadang kadang seseorang itu berarti bagi diri kita setelah tidak bersama lagi
ReplyDeleteBetul-betul...terasa sekali kehilangannya,makasih sudah mampir🙏
Delete