Antara Nyawa dan Minyak Goreng






Antara Nyawa dan Minyak Goreng


Semahal itukah minyak goreng saat ini sehingga harus ditebus dengan nyawa?Kapankah kelangkaan minyak goreng akan berakhir?

Kelangkaan minyak goreng sepertinya tidak berkesudahan. Pemandangan anteran panjang  ini terjadi dari bulan Januari. Keresahan ini terus terlihat manakala ibu-ibu di berbagai daerah gencar memburu dimana minyak goreng berada. Di tiap pasar moderen , pasar tradisional dan ritel-ritel penuh dijejali antrean  masyarakat .Para ibu siap menyerbu tiap peluang yang dianggap ada minyak goreng. Datangnya  minyak goreng subsidi dari pemerintah menjadi bidikan para ibu untuk mendapatkan minyak goreng  walau rela harus antre sepanjang jalan.Miris sekali pemandangan yang terlihat keseharian saat ini.  Masyarakat harus antre panjang dan berjam-jam  untuk mendapatkan 2 liter minyak goreng dan itu tidak menjamin kebagian semua. Ironis sekali di tengah antrean dan petualangan memburu minyak goreng, seorang ibu di Samarinda harus meregang nyawa karena pecah pembuluh darah akibat kecapean  setelah memburu minyak goreng dari beberapa perbelanjaan. Semahal itukah minyak goreng saat ini ? Tidakkah pemerintah melihat ketika korban berjatuhan?

Rakyat hanya menjadi kelinci percobaan  untuk sebuah kebijakan. Rakyat tetap menderita.Pemerintah dalam hal ini kemendag gagal  tidak bisa melawan mafia minyak goreng dan spekulan rakus ,serta jahat.

Pemerintah berkelit tidak bisa mengatasi masalah  minyak goreng ini. Pemerintah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Itu tentu saja bukan alasan  dalam mengatasi hal ini manakala korban sudah berjatuhan. Kenapa tidak pemerintah membentuk panitia kerja pengawasan pangan hingga terdeteksi ketika harga berbeda.Pemerintah hendaknya dalam hal ini bersinergi dengan lembaga lainnya yang berkaitan untuk membongkar dugaan mafia melawan pasar yang sangat jumawa.

Raib dan kelangkaan minyak goreng di negeri ini mau sampai kapan berakhir ? Hanya dengan tindakan pemerintah yang tegas , cepat dan bersinergi dengan berbagai pihak akan bisa menyelesaikan ini semua. Antrean panjang masyarakat memburu minyak bukan pemandangan nyaman sebagai hiburan yang bisa dilihat tapi cambuk terkeras untuk untuk membelalakan mata pemerintah agar segera menyudahi ini semua.



Comments

Popular posts from this blog

Anak ADEM ku yang Pertama

Sekolah tlah membesarkanku hingga kini

Mengelola Majalah Sekolah