Bapakku Motivatorku Sepanjang Hayat

 

KK_Kelas_Kreatif_Writter Club

#Challange menulis  # 19 Ayah/Bapak

 Senin, 28 Juni 2022



BAPAKKU MOTIVATORKU SEPANJANG HAYAT

                                                      Oleh: Sri Mulyani Wibusana

  

Seseungguhnya udara yang setia

memberikan nafas kehidupan

Angin yang menghembuskan dan menggerakkan roda kehidupan

Senja yang selalu menyambut malam

Mentari yang  mendaping siang…

Api yang selalu memanasi apapun itu

 

Itulah bapakku yang selalu full memberikan semangat untuk aku selalu berjuang meraih mimpi, mendorongku menjadi manusia yang punya pendidikan tinggi .

Keseharianku besar di lingkungan  sekolah, sebelum akau masuk sekolah dasar sudah banyak mengenal lingkungan sekolah karena aku selalu dibawa ayahku mengajar  di sebuah sekolah dasar di kampungku. Sudah mulai menginjak masa sekolah dasar tempat ayahku bekerja rupanya  membuatku untuk  selalu menunjukkan yang terbaik . Bapakku memperlakukan aku layaknya siswa yang lainnya. Pada suatu waktu pelajaran matematika , aku disuruh bapakku ke depan untuk mengerjakan matematika yaitu materi perkalian bagi kurung, pengerjaan agak mandeg maklum pelajaran matematika  pelajaran yang sulit bagiku. Beberapa lama aku mengerjakan bagi kurung di depan sampai sampai sapu lidi nyasar di kepalaku. Hingga sampai  pulang ke rumah aku cemberut karena kesal.Itulah bapakku memperlakukanku. Dan memang  guru-guru dulu begitu kerasnya tetapi tidak membuat banyak komplen orang tua karena  mereka paham kalau itu mendidik,  cara agar siswa bisa .Maklum hasil sekolah SR didikan Belanda ya berbekas sekali dalam mendidik siswa. Dan kita bisa membayangkan kalau sekarang seperti itu, wah ortu pada berdatangan ke sekolah komplen tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Ya situasi dulu dan sekarang memang berbeda.

 

Didikan keras bapakku  membuatku aku semakin kuat, begitu paham beliau. Kalau magrib tiba sudah solat dan makan malam , di meja makan itu kumulai membuka pelajaran –pelajaran untuk besok. Suasana mulai mencekam karena aku harus belajar matematika yang perlu latihan intens beda dengan pelajaranyang lain  bisa kupelajari sendiri.

Bapakku mulai memberikan latihan soal, dan kukerjakan soal-soal itu.Berulangkali kepalannya melayang dikepalaku kalau aku nggak bisa mengerjakan, sambil ku menagis kucoba mengerjakan sampai aku bisa mengerjakan sendiri hingga betul.Rupanya itu malam mencekam yang sering kulewati ketika belajar matematika. Itulah bapakku mendidikku ,beliau tak membedakan dengan siswa yang lain bahkan ke anak sendiri  lebih keras.Bapakku , guruku itulah rupanya predikat beliau selama itu karena aku di sekolah diajar juga oleh beliau.

 Sering bapakku mengatakan, “Apa yang akan kita berikan pada generasi kita nanti? Kemiskinan ? kebodohan ? kekayaan harta yang melimpah atau pendidikan?” Itu yang beliau sampaikan . “Bapak tidak punya apa-apa , uang, tanah, sawah atau kekayaan lainnya , hanya pendidikan yang bapak punya”. Untuk itu sekuat tenaga beliau mewujudkan itu semua, tak pernah ada kata menyerah untuk mendorongku agar aku mengenyam pendidikan lebih tinggi. Sehingga aku nanti bisa mencetak generasi-generasi yang berpendidikan lebih tinggi lagi.

 Tiga tahun sudah kuselesaikan sekolah lanjutan pertama di sebuah smp negeri favorit waktu itu .Menuju ke jenjang SMA walaupun bukan sekolah negeri tetapi pilihanku pada karakteristik sekolah yang sangat terkenal disiplinnya makanya disebut sekolah favorit juga di kota Sumedang.Sekolah itu terhitung sekolah swasta favorit untuk biayanya juga lumayan di banding negeri waktu itu.Sepanjang keinginan baik untuk kemajuan pendidikan tak masalah bagi orang tua ku terutama bapakku yang begitu besar memajukan anaknya dalam pendidikan. Sepertinya tidak pernah ada kata  'Tida ada Uang”sepanjang ku memintanya untuk kepentingan sekolah. Ya, tak pernah sekalipun aku mendengar kata itu dari bapakku. Beliau selalu mengatakan , “Ya ada” kalau akau meminta kebutuhan sekolah apapun itu. Padahal aku sendiri tahu kondisi ekonomi yang kembang kempis  tetapi tidak membuatnya surut untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. 

 Bapakku seorang pendidik, beliau mengajar di sekolah dasar sebuah desa kecil. Darah pendidik mengemasi  pribadinya dan kehidupannya, beliau bukan hanya contoh untuk aku sebagai anaknya tetapi menjadi pelopor di kampungku yang saat itu sangat jarang sekali yang mengenyam pendidikan sma bahkan perguruan tinggi. Kebanyakan setelah lulus  sekolah dasar atau sekolah menengah pertama mereka itu bekerja bahkan kalau perempuan  dinikahkan oleh orang tuanya.

Melihat kegigihan ayahku membesarkaku dengan mendorong pendidikan lebih tinggi menjadi contoh bagi masyarakat di kampungku. “Saya ingin seperti Pa Guru, bisa menyekolahkan anaknya ke PT”, Itulah kalimat yang sering terdengar diucapkan oleh masyarakat. Bapakku bukan hanya kebanggaan anaknya tetapi menjadi kebanggaan masyarakat sekampungku.

 “Bapak guru SD, kamu harus lebih tinggi pendidikannya  dari bapak , akan kuhantarkan ke jembatan emas yang kau inginkan” .Itulah yang sering beliau ungkapkan untuk memberikan semangat agar aku menggapai mimpi yang kuinginkan.

Kutak merasa kondisi ekonomi keluargaku tidak akan mampu membiayai ku untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Ku yakin Allah membeikan rezeki untuk semua umatnya dalam menuntut ilmu. Walau begitu, saya tahu dan paham kondisi ekonomi  bapakku sangat minim, maka aku kuatkan niat di hati , aku harus maju , kalau aku mau kuliah berarti harus kuliah di perguruan tinggi negeri, karena rasanya tak mungkin kalau aku kuliah di perguruan tinggi swasta. Gaji bapakku pensiunan sekolah dasar mana cukup untuk kuliah  selain biaya kuliah kebutuhan keseharian juga rasayanya sudah untung kalau mencukupi.

 Setelah lulus pendidikan menengah kumencoba mengikuti Sipenmaru ke IKIP Bandung  dan alhamdulillah lolos seleksi. Ya Peruruan Tinggi keguruan, entah mengapa aku menginginkan jadi guru. Rupanya darah guru mengalir padaku, entah mengapa sedari kecil koq suka sekali melihat sosok guru. Faktor lingkungan dan gemblengan bapakku sehingga aku ingin menjadi guru seperti sosok bapakku.

 Pagi itu ku datang membawa kebahagiaan, dari kejauhan kuberteriak memanggil-manggil,bapaku  sambil ku terikakn “Pak , aku lulus ke perguruan tinggi !”….Kulihat bapakku gembira sambil terus menyelesaikan pekerjaannya membuat kurung ayam, pekerjaan yang dilakukan dalam mengisi masa pensiunnya. Sejenak ku diam sambil memperhatikan bapakku yang begitu santai menyelesaikan pekerjaanya.

Aku diam sambil memperhatikan bapakku yang sedang asyik membuat kurung ayam. “Mungkin bapakku bisa membiayaiku kuliah? Sementara beliau tidak punya penghasilan tambahan cuma uang gaji pensiunan yang morat marit”, Itu yang ada dibenakku sambil terus kuperhatikan bapakku. Berkecamuk  pertanyaan di hatiku dengan penuh kekhawatiran.

“Berapa uang untuk registrasinya?” seraya beliau menanyakan. Aku tersentak kaget, gembira dan campur bingung. Aku bingung karena berpikir darimana bapakku punya uang.

“Jangan bingung dan jangan tanya bapak punya uang dari mana , pokoknya untuk biaya sekolah , jangan khawatir, pasti ada”, kata bapak.” Kalimat yang selalu kuingat dan jadi motivasi terbesarku. Bapakku selalu membesarkan hati anak-anaknya , Hingga kurasakan dorongan terbesar untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk diriku dan orang tua.

 Tiga tahun ku menjadi mahasiswa IKIP Bandung, jurusan bahasa Indonesia. Aku ngambil D-3 karena perkuliahannya tidak lama dan aku ingin cepat bekerja . Namun , D3 waktu itu angkatan terakhir  dan tidak harus bekerja dulu ketika ingin melanjutkan ke S-1.Bapakku menganjurkanku untuk melanjutkan ke jenjang S-1. Kucoba meminta berhenti dulu untuk tidak melanjutkan dan akan mencoba dulu mengajar  di sekolah biar bisa mengurangi beban biaya.Namun, bapakku menganjurkanku untuk terus lanjut ke jenjang S-1.” Jangan kau pikirkan biaya lanjutkan kuliah , nanti itu pendidikan akan terus meningkat tuntutannya, jadi lanjut saja biar tenang”, ungkap beliau.Apa yang dikatakan beliau memang benar adanya, begitu terasa  sekarang  pendidikan itu terus mengalami pergeseran dan peningkatan. Untung mengikuti bapakku yang bersikeras mendorongku melanjutkan ke jenjang S -1 waktu itu.Hingga berbuah manis  pada tahun 1998 ku selesaikan studiku dari IKIP Bandung.

 Dorongan Bapakku tidak berhenti disana, perjalananku menjadi ASN dukungan penuh dari beliau. Cukup lama ku mengajar di sebuah SMA negeri di Tanjungsariu dan cukup lama pula ku menjadi ASN, membuatku galau dan hampir patah semangat. Bapakku terus membimbingku untuk terus bersabar menunggu menjadi ASN sambil menjalani sebagai guru honorer. “Tunaikan ilmumu , insya Allah rezeki tidak akan kemana”. Perjuangannku berbuah manis setelah sekian lama mengabdi sebagai honorer akhirnya sampai juga pada cita-citaku menjadi ASN.

 Kulihat linangan airmatanya , wajahnya yang sudah menua terlihat bahagia mendengarku lulus seleksi CPNS. Tidak ada yang beliau ucapkan selain ucap syukur kepada sang Khalik yang telah mengabulkan doanya untukku. Masih terlihat jelas dipelupuk mataku, walau kau telah tiada namun semangatmu sampai saat ini dan selanjutnya akan ku tetap pelihara. Motivasimu takan pernah mati hingga  ku menyampaikan motivasimu ke generasiku selanjutnya.

 


Comments

Popular posts from this blog

Anak ADEM ku yang Pertama

Sekolah tlah membesarkanku hingga kini

Mengelola Majalah Sekolah