Tiba saatnya kau pergi, 18 Juli 2022
Segores tinta di ujung waktu,sepercik asa 'tuk anak-anakku
(Sumber gambar: Sri Mulyani Wibusana)
Maafkan anak -anakku
Ibumu yang lugu dalam ilmu
Ibumu yang kaku dalam membelajarkanmu
Karna kita hanya bisa bercengkrama dalam batas maya.
Tak kujamah selancarmu
Hanya kusentuh dalam bayang bayang layar
Walau kutahu banyak yang buatmu ambigu
Tempat ini,disini jadi saksi hidup kita masa pandemi.
Virus kaku,takut,jarak,semua jadi cerita.
Kalian berada disini membawa anganmu dan angan orang-orang tersayang dibalikmu. Ya,
Orang tuamu yang selalu memberi dukunga full untuk mewujudkan asamu,yang selalu khawatir jika kau telat pulang,yang selalu khawatir jika kau kurang bisa memahami situasi,yang selalu khawatir jika kau tak punya bekal ilmu untuk hidupmu,yang selalu khawatir jika kami kurang maksimal menempamu ,dan selalu khawatir jika kau tak bisa memahami kehidupan ini.
Kami orang tuamu juga yang punya kekhawatiran yang sama.Sejatinya kekhawatiran ada dan takkan bisa dipisahkan dari ikatan kasih sayang.
Candamu ,tawamu,kesalku,ulahmu biarlah jadi bingkai cerita hidupku yang senantiasa kupajang hingga jadi kenangan
Ibu tak punya apa apa,tapi satu yang ibu punya...
Doa....doa terbaikmu dari sekian doa yang ibu punya.Ibu tak menginginkan apa-apa,hanya harapan yang kudambakan. Jadilah manusia- manusia hebat yang berkarakter.
Semoga kalian mampu meraih masa depan yang gemilang,.....menjadi manusia-manusia tangguh yang mampu menghadapi tantangan hidup....kesuksesan selalu berada dipihakmu.
Anak-anakku...
Pergilah dengan keluasan hatimu,dengan tekad kuatmu.
Mimpilah untuk hidupmu dan janganlah kau hidup dalam mimpi.
Tanjungsari,18 Juni 2022

Comments
Post a Comment